Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

​Khaul Kyai Achmad Syuhada’: Syekh Muchtarullohi Mujtaba Mu’thi Tegaskan Pentingnya Shodaqoh, Kemanusiaan, dan Cinta Tanah Air

· 2 menit baca · Diperbarui

​Khaul Kyai Achmad Syuhada’: Syekh Muchtarullohi Mujtaba Mu’thi Tegaskan Pentingnya Shodaqoh, Kemanusiaan, dan Cinta Tanah Air

​Mengangkat pesan mendalam dari Mauidhotul Chasanah Syekh Muchtarullohi Mujtaba’ Mu’thi dalam peringatan Khaul Kyai Achmad Syuhada’, menekankan keajaiban shodaqoh, kesucian niat ikhlas, pembangunan Rumah Syukur tanpa memandang agama, serta esensi cinta Tanah Air Indonesia.

LOSARI / JOMBANG — Dalam suasana khidmat memperingati Khaul Kyai Achmad Syuhada’ (7 Rabi’ul Awwal 1448 H / 20 Agustus 2026 M), Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muchtarullohi Mujtaba’ Mu’thi, menyampaikan ajaran mendalam (mauidhotul chasanah) yang menggugah jiwa para jamaah dan warga Shiddiqiyyah.

​Berangkat dari petikan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari:

​"Assholatu 'amudul islam wal jihadu sanamul 'amal washodaqotu syai'un 'ajiibun (3x)"

(Sholat adalah tiang agama, berjuang/jihad adalah puncak amal, dan shodaqoh adalah sesuatu yang sangat menakjubkan)

​Syekh Muchtarullohi menggarisbawahi alasan Rasulullah SAW mengulang kata 'ajiibun' (menakjubkan) hingga tiga kali. Beliau menjelaskan bahwa di dalam shodaqoh tersimpan daya kekuatan spiritual dan dorongan jiwa kasih sayang (sakhiyyun) yang luar biasa, yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah, sesama manusia, dan surga.

​Infaq, Kemanusiaan, dan Program "Rumah Syukur"

​Melanjutkan pesan mulia Rasulullah SAW di bulan kelahiran dan wafatnya (Maulid Nabi), Syekh Muchtarullohi mengajak seluruh jamaah untuk mengagungkan Baginda Nabi Muhammad SAW melalui amal nyata. Salah satunya adalah menyantuni anak yatim, piatu, dhuafa, serta membangun Rumah Syukur Layak Huni.

​"Pembangunan Rumah Syukur ini ditujukan untuk siapapun yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang agama maupun kepercayaan. Ini bukan semata-mata masalah keagamaan, melainkan landasan kemanusiaan dan bukti nyata rasa syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia serta berdirinya NKRI," tegas Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah tersebut.

​Beliau juga mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal. Mengutip ajaran Kitab Al-Hikam, beliau menegaskan bahwa nyawa dari suatu amal adalah keikhlasan. Amal yang dilakukan hanya demi pujian manusia hilang nilainya di hadapan Allah SWT.

​Meneladani Perjuangan Kyai Achmad Syuhada’

​Peringatan Khaul ini sekaligus menjadi momentum mengenang jasa besar Kyai Achmad Syuhada’, ulama pejuang asal Kadilangu, Demak, yang memboyong keluarganya ke Jawa Timur untuk mendirikan pesantren-pesantren (seperti Pesantren Dung Turi) sebagai benteng moral bangsa dari pengaruh penjajahan.

​"Mbah Syuhada’ dan para ulama terdahulu mendirikan pesantren untuk menjaga moral bangsa. Kita melanjutkan estafet perjuangan tersebut dengan aksi nyata cinta Tanah Air (Hubbul Wathan) dan kepedulian sosial," ungkap Syekh Muchtarullohi.

​Makna Cinta Dunia dan Tanggung Jawab Moral

​Dalam ceramahnya, Syekh Muchtarullohi juga memberikan meluruskan pemaknaan hadits Hubbud dunya ro'su kulli khoti'ah (Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan). Beliau menjelaskan bahwa memiliki harta dan dunia yang berlimpah tidak tergolong hubbud dunya selama harta tersebut diinfakkan dan dipergunakan untuk kemaslahatan umat manusia serta perjuangan kemanusiaan.

​Menutup tausiyahnya, Syekh Muchtarullohi menyampaikan doa tulus agar seluruh murid dan warga Shiddiqiyyah senantiasa dijaga oleh Allah SWT, dihindarkan dari tipu daya duniawi, serta terus dilimpahi syafaat Rasulullah SAW.

​Tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia:

​Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia adalah gerakan keagamaan dan kebangsaan yang berfokus pada pendidikan moral, penanaman jiwa cinta Tanah Air, serta aksi-aksi kemanusiaan nyata seperti pembangunan Rumah Syukur Layak Huni bagi masyarakat yang membutuhkan di seluruh pelosok Nusantara.(OPSHID Media) 

Penulis:

Editor: PRY