Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Jalan Panjang Menuju Sumpah Pemuda: Ketika Kesadaran Kebangsaan Melampaui Batas Daerah

· 4 menit baca · Diperbarui

Jalan Panjang Menuju Sumpah Pemuda: Ketika Kesadaran Kebangsaan Melampaui Batas Daerah

"Sumpah Pemuda lahir dari pengalaman penjajahan, tumbuhnya organisasi pergerakan, dan upaya generasi muda menyatukan cita-cita kebangsaan."

Cirebon, 27/10/2026, - Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai organisasi menetapkan keputusan Kongres Pemuda Kedua di Batavia, kini Jakarta. Keputusan tentang satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan Indonesia itu kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Ikrar tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Di belakangnya terdapat perjalanan panjang: kehidupan di bawah pemerintahan kolonial Belanda, berkembangnya organisasi pergerakan, serta pertemuan dan perdebatan antarpemuda tentang cara membangun persatuan.

Penjajahan dan tumbuhnya kesadaran bersama

Pada awal abad ke-20, wilayah yang kini disebut Indonesia berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di tengah keterbatasan dan ketimpangan kehidupan kolonial, muncul berbagai organisasi yang berupaya memperbaiki keadaan masyarakat dan memperjuangkan kemajuan.

Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi salah satu tonggak perkembangan organisasi modern. Setelah itu, berbagai perkumpulan lain tumbuh dengan perhatian dan latar keanggotaan yang beragam. Perkembangan ini membuka ruang bagi kaum terpelajar dan pemuda untuk berdiskusi, berorganisasi, dan memikirkan masa depan masyarakatnya. *(Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Di kalangan pemuda, sejumlah organisasi mula-mula tumbuh dengan ikatan daerah. Di antaranya Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, dan Jong Ambon. Ikatan tersebut menjadi tempat para anggotanya berhimpun dan membangun kepedulian terhadap daerah asal.

Seiring berkembangnya pergerakan, muncul pula kesadaran bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah tidak berdiri sendiri. Cita-cita untuk merdeka dan maju membutuhkan kerja sama yang lebih luas. Ikatan daerah mulai dipertemukan dengan gagasan tentang identitas bersama: Indonesia. *(Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku. 

Kongres pertama membuka jalan

Salah satu peristiwa penting yang mendahului Sumpah Pemuda adalah Kongres Pemuda Pertama di Batavia pada 30 April–2 Mei 1926. Pertemuan itu mempertemukan wakil-wakil organisasi pemuda untuk membicarakan persatuan dan arah perjuangan bersama.

Gagasan persatuan tidak serta-merta menyelesaikan seluruh perbedaan pandangan. Salah satu pembahasan menyangkut bahasa yang dapat menjadi pengikat. Mohammad Tabrani, ketua Kongres Pemuda Pertama, memperjuangkan penggunaan nama bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Gagasan tersebut kemudian menemukan tempat dalam keputusan Kongres Pemuda Kedua. *(news.republika.co.id

Kongres 1926 belum menghasilkan satu wadah yang menyatukan seluruh organisasi pemuda. Namun, pertemuan itu membuka jalan bagi komunikasi dan kerja sama yang lebih erat. Menurut kajian tentang perkumpulan Sekar Rukun dalam jurnal Historia, upaya menyatukan organisasi pemuda dalam satu wadah masih menghadapi kesulitan pada kongres pertama. download.garuda.*(kemdikbud.go.id

Di tengah proses tersebut, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tampil sebagai organisasi yang menghimpun pelajar dari berbagai daerah. PPPI kemudian memprakarsai penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua. *(Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Dua hari yang menegaskan cita-cita bersama

Kongres Pemuda Kedua berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia dan dipimpin Soegondo Djojopoespito. Para peserta datang dengan latar organisasi dan daerah yang berbeda, tetapi membawa kebutuhan yang sama: mencari dasar persatuan bagi gerakan pemuda.

Rangkaian kongres berlangsung di beberapa tempat. Gedung di Jalan Kramat Raya 106, yang kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda, menjadi tempat rapat penutup dan salah satu lokasi penting dalam sejarah kongres. Di gedung itu pula keputusan kongres ditegaskan pada 28 Oktober 1928.

Dalam suasana kongres, Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan untuk pertama kalinya lagu ciptaannya, Indonesia Raya. Menurut Direktorat Jenderal Kebudayaan, lagu tersebut dimainkan tanpa lirik untuk menghindari represi pemerintah kolonial. *(Direktorat Jenderal Kebudayaan

Keputusan kongres yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda menyatakan tiga pengakuan dan tekad:

1. Satu tanah air, tanah air Indonesia.

2. Satu bangsa, bangsa Indonesia.

3. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ketiga pokok itu menegaskan bahwa para pemuda melihat masa depan bersama melampaui asal daerah masing-masing. Bahasa Indonesia ditempatkan sebagai bahasa persatuan, sehingga masyarakat yang memiliki beragam bahasa daerah mempunyai sarana untuk saling terhubung.

Persatuan sebagai proses perjuangan

Sumpah Pemuda tidak langsung mengakhiri penjajahan. Kemerdekaan Indonesia baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, hampir 17 tahun setelah kongres tersebut.

Namun, keputusan tahun 1928 menjadi tonggak penting dalam pembentukan kesadaran sebagai satu bangsa. Para pemuda menunjukkan bahwa cita-cita bersama dapat dibangun melalui organisasi, pertemuan, perbedaan pendapat, dan kesediaan mencari titik temu. Arsip Nasional Republik Indonesia menempatkan gerakan pemuda pada periode 1908–1928 sebagai bagian dari perjalanan bangsa menuju kemerdekaan. *(Arsip Nasional Republik Indonesia

Warisan Sumpah Pemuda karena itu tidak berhenti pada pengulangan ikrar setiap 28 Oktober. Semangatnya hidup ketika perbedaan latar belakang tetap memberi ruang bagi kerja bersama, dan ketika kepentingan bangsa dijaga melalui tanggung jawab serta pengabdian.

 

®Sumber bacaan:

- Museum Benteng Vredeburg: Diorama Kongres Jong Java

- Museum Benteng Vredeburg: Memaknai Kebangkitan Nasional

- Direktorat Jenderal Kebudayaan: Kisah di Balik Lahirnya Indonesia Raya

- Republika: Tabrani Perjuangkan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu

- ANRI: Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa

Penulis:

Editor: PRY