Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hari Santri, OPSHID Teladankan Pengabdian Untuk Indonesia Raya

· 2 menit baca · Diperbarui

Hari Santri, OPSHID Teladankan Pengabdian Untuk Indonesia Raya
Gambar Ilustrasi

Cirebon, 22/10/2026, - Momentum Hari Santri, 22 Oktober 2026, menjadi kesempatan untuk meneguhkan keteladanan pemuda-pemudi pesantren dalam mengabdi kepada bangsa. Semangat tersebut tercermin dalam kiprah Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) melalui kepedulian sosial dan gotong royong membantu masyarakat.

Tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan pembinaan Pesantren Shiddiqiyyah di Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, pemuda-pemudi OPSHID merupakan bagian dari keluarga besar murid Syekh Mukhtar Mu’thi. Nilai spiritual yang dipelajari menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang bermanfaat bagi sesama dan tanah air.

Hari Santri memberikan ruang untuk merefleksikan tanggung jawab tersebut. Keteladanan santri dapat hadir melalui kejujuran, kedisiplinan, persaudaraan, serta kesediaan bekerja bersama menjawab kebutuhan masyarakat.

 

Rumah Syukur, Wujud Kepedulian Pemuda Pesantren

Salah satu bentuk pengabdian OPSHID adalah program Rumah Syukur, yakni pembangunan rumah layak huni secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.

Berdasarkan laporan OPSHIDMedia, hingga 2026 program ini telah menghasilkan 507 rumah dengan nilai pembangunan lebih dari Rp39 miliar. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana kepedulian yang dihimpun secara terorganisasi dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat.I"Kegiatan pembangunan Rumah Syukur untuk bangsa ini akan kami laksanakan rutin setiap tahunnya", tutur Mulyono Sekretaris Harian DPP OPSHID. 

Bagi keluarga penerima, rumah merupakan tempat berlindung, membesarkan anak, dan menata kehidupan. Karena itu, pembangunan Rumah Syukur membawa tanggung jawab kemanusiaan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Keterlibatan pemuda-pemudi dalam pengabdian sosial juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Melalui kerja bersama, mereka belajar mengelola amanah, menghargai kontribusi orang lain, serta mendahulukan kepentingan bersama.

Semangat syukur menemukan wujudnya dalam kesediaan berbagi. Sementara itu, kecintaan kepada bangsa diterjemahkan melalui tindakan yang membantu kehidupan sesama warga Indonesia.

 

Meneladankan Akhlak, Merawat Persatuan

Keteladanan pemuda pesantren juga diperlukan dalam menjaga hubungan sosial. Di tengah derasnya arus informasi, santri memiliki tanggung jawab untuk mengedepankan tabayun, menjaga tutur kata, dan menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi.

Sikap tersebut penting agar perbedaan pandangan tetap dapat dibicarakan dengan saling menghormati. Persatuan membutuhkan orang-orang yang bersedia mendengar, memeriksa informasi, serta menyelesaikan persoalan dengan kepala jernih.

Dalam lingkungan organisasi, nilai persaudaraan perlu diwujudkan melalui kedisiplinan, keterbukaan, dan tanggung jawab. Dengan bekal itu, pemuda-pemudi pesantren dapat memperluas pengabdian sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

Pesantren pun semakin menguatkan perannya sebagai salah satu benteng moral dan sosial bangsa ketika pendidikan melahirkan pribadi yang berilmu, berakhlak, serta peduli terhadap kehidupan di sekitarnya.

 

Dari Losari untuk Indonesia Raya

Momentum Hari Santri mengingatkan bahwa pengabdian kepada Indonesia dapat dimulai dari lingkungan terdekat: membantu tetangga, merawat persaudaraan, dan bergotong royong menyediakan kebutuhan dasar masyarakat.

Kiprah pengabdian pemuda OPSHID melalui Rumah Syukur menjadi salah satu contoh peran pemuda pesantren dalam menjalankan tanggung jawab tersebut. Pembinaan spiritual memperoleh makna sosial ketika mendorong lahirnya pekerjaan yang bermanfaat.

Dari lingkungan Pesantren Shiddiqiyyah di Losari, Ploso, Jombang, semangat pengabdian itu diarahkan untuk memperkuat kepedulian kepada sesama dan kecintaan terhadap tanah air.

Hari Santri menjadi pengingat untuk terus merawat keteladanan tersebut. Dengan ilmu, akhlak, dan kerja bersama, pemuda-pemudi OPSHID dapat mengambil bagian dalam membangun kehidupan bangsa yang lebih bermartabat.

**Dari pesantren untuk Bangsa, melalui pengabdian Untuk Indonesia Raya.**

Penulis:

Editor: PRY