Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kiai Mukhtar Mu’thi: Sang Mursyid yang Menghidupkan Kembali Jalan Kebenaran dan Cinta Tanah Air

· 2 menit baca · Diperbarui

Kiai Mukhtar Mu’thi: Sang Mursyid yang Menghidupkan Kembali Jalan Kebenaran dan Cinta Tanah Air
  • Kyai Mukhtar Mu’thi: Sang Mursyid yang Menghidupkan Kembali Jalan Kebenaran dan Cinta Tanah Air

Hari ini, 14 Oktober 2026, genap 98 tahun usia Kyai Muchammad Mukhtar Mu’thi—ulama kharismatik asal Jombang yang dikenal luas sebagai Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia. Di tengah perayaan ulang tahunnya, perjalanan hidup sang kyai menjadi cermin bagaimana keimanan, tasawuf, dan semangat kebangsaan bisa menyatu menjadi kekuatan yang terus menginspirasi jutaan orang.

Lahir pada Ahad Kliwon, 14 Oktober 1928 (28 Rabiul Akhir 1347 H) di Dukuh Losari Rowo, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kyai Mukhtar—akrab disapa Kiai Tar—tumbuh dalam keluarga pejuang. Ia putra keenam dari Haji Abdul Mu’thi dan Nyai Nasichah (dan anak ke-12 dari total 17 bersaudara dari dua istri ayahnya). Darah perjuangan mengalir kuat dari leluhurnya. Kakek-kakeknya, seperti Kyai Ahmad Syuhada (pendiri Pesantren Kedungturi), Kyai Ahmad Sanusi Abdul Ghoffar, Kyai Zamroji, dan lainnya, terlibat aktif dalam perlawanan terhadap penjajah sejak zaman Perang Jawa bersama prajurit Pangeran Diponegoro. Ayahnya sendiri adalah ulama tasawuf dan mursyid Thoriqoh Sammaniyyah yang juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan.

Sejak kecil, Kyai Mukhtar sudah akrab dengan Al-Qur’an. Di Madrasah Ibtidaiyah Ngelo (sekitar 2 km selatan Losari), ia hafal sekitar 6 juz. Remaja, ia nyantri di Pesantren Darul Ulum Rejoso (6 bulan) dan Bahrul Ulum Tambakberas Jombang (8 bulan). Kondisi ekonomi keluarga memaksanya keluar lebih cepat, tapi semangat belajar tak padam. Setelah ayahnya wafat pada 27 Agustus 1948, ia membantu mengurus adik-adiknya yang masih kecil, sambil terus mendalami ilmu agama dan tasawuf.

Perjalanan spiritualnya yang paling menentukan terjadi sekitar 1952. Ia melakukan rihlah (pengembaraan) selama sekitar 8 bulan, dimulai dari Gresik, Lamongan, terus ke barat hingga Banten. Di Masjid Agung Banten, lalu di kawasan Kasemen, ia bertemu Syekh Ahmad Syuaib (Sueb) Jamali al-Banteni. Dari sang guru inilah ia menerima baiat dan ilmu thoriqoh secara intensif. Syekh Jamali kemudian memberi amanat khusus: menghidupkan kembali nama asli thoriqoh yang telah “tenggelam” ratusan tahun, yaitu Thoriqoh Shiddiqiyyah—yang silsilahnya bersambung ke Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan didasarkan pada Al-Qur’an serta hadits.

Pada 1959, Kyai Mukhtar kembali ke Losari untuk memenuhi wasiat ayahnya dan harapan ibunya. Di sinilah ia mulai mengajarkan Thoriqoh Shiddiqiyyah. Apa yang semula hanya pondok sederhana bernama Kedung Turi berkembang menjadi Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah. Fokusnya bukan sekadar ritual, melainkan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), kejujuran iman, dan kesadaran berbangsa-bernegara. “Manunggalnya keimanan dan kemanusiaan” menjadi semangat utama.

Dari pesantren itu tumbuh berbagai organisasi: Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah (1973), Jam’iyyah Kautsaran Putri Haajarullah Shiddiqiyyah (JKPHS), lembaga sosial Dhilal Berkat Rohmat Alloh (DHIBRA) yang aktif membangun rumah layak huni dan santunan, Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID), hingga Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia. PCTA lahir dari inspirasi semangat Bhinneka Tunggal Ika dan seminar Sutasoma. Kyai Mukhtar sering mengingatkan: bahaya terbesar bagi bangsa bukan bencana alam, melainkan terkikisnya jati diri. Sumpah Pemuda dan lagu Indonesia Raya adalah penampakan jati diri itu.

Penulis:

Editor: PRY