ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Indonesia Raya, Lagu yang Membuat Pemerintah Kolonial Belanda Khawatir
· 2 menit baca
"Lagu Indonesia Raya pernah dibatasi pemerintah kolonial. Kekuatan lagu ini terletak pada kemampuannya menumbuhkan kesadaran kebangsaan."
Cirebon, 29/10/2026, - Pada 28 Oktober 1928, W.R. Soepratman memperdengarkan Indonesia Raya melalui gesekan biola dalam Kongres Pemuda II di Batavia, kini Jakarta. Di tengah perjuangan membangun persatuan, lagu itu hadir membawa semangat kebangsaan, jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Museum Sumpah Pemuda mencatat penampilan tersebut berlangsung sebelum pembacaan putusan kongres yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Lantas, benarkah Indonesia Raya “ditakuti Belanda”? Ungkapan itu dapat dipahami sebagai gambaran kekhawatiran pemerintah kolonial terhadap pengaruh politiknya. Namun, sikap tersebut berkembang secara bertahap.
Dari Diremehkan hingga Dibatasi
Menurut kajian kurator Museum Sumpah Pemuda, dalam laporan tertanggal 18 Januari 1929, pejabat kolonial van der Plas semula menganggap Indonesia Raya tidak berbahaya secara politik. Penilaian itu berhadapan dengan perkembangan berikutnya: lagu tersebut semakin sering dinyanyikan dalam pertemuan kaum pergerakan, termasuk kongres Partai Nasional Indonesia pada 1929.
Ensiklopedia Sejarah Indonesia mencatat bahwa pada November 1929, Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff mengeluarkan edaran yang menempatkan Indonesia Raya sebagai lagu perkumpulan. Pegawai pemerintah kolonial juga dilarang berdiri ketika lagu tersebut dinyanyikan. Kebijakan itu muncul ketika masyarakat semakin luas memberikan penghormatan kepada Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.
Ketika Lagu Menjadi Persoalan Politik
Museum Sumpah Pemuda menerangkan bahwa pada 1930, pemerintah kolonial melarang Indonesia Raya dinyanyikan dan diperdengarkan di hadapan umum. Pembatasan juga menyasar peredaran notasi dan liriknya. W.R. Soepratman turut diinterogasi mengenai maksud penciptaan lagu tersebut karena dicurigai menghasut perlawanan.
Rangkaian tindakan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia Raya telah memperoleh arti politik. Dalam pembacaan sejarah, kekhawatiran kolonial dapat dipahami sebagai respons terhadap tumbuhnya kesadaran bersama: masyarakat dari berbagai latar belakang mulai menyatakan diri sebagai satu bangsa.
Meski demikian, sejarah ini perlu dibaca secara cermat. Ensiklopedia Sejarah Indonesia juga mencatat pandangan dalam pers masa itu bahwa syair Indonesia Raya berisi kecintaan kepada tanah air serta ajakan bekerja bagi kemajuan negeri.
Bagi generasi sekarang, perjalanan Indonesia Raya mengingatkan bahwa persatuan membutuhkan keberanian dan ketekunan. Menghormati lagu kebangsaan berarti pula menghidupkan pesan pengabdiannya: mencintai tanah air, menjaga persaudaraan, serta bekerja untuk kesejahteraan bersama.
Lagu yang dahulu dicurigai pemerintah kolonial itu kini mengajak kita meneruskan tanggung jawab kebangsaan melalui tindakan nyata.
Sumber tepercaya:
- Museum Sumpah Pemuda — Indonesia Raya: Dari Lagu Biasa Menjadi Berbahaya, tulisan kurator yang menyertakan rujukan arsip, pers kolonial, dan buku sejarah.
- Ensiklopedia Sejarah Indonesia — Indonesia Raya, ditulis Samidi dan disunting Prof. Purnawan Basundoro.
- Museum Sumpah Pemuda — Biografi W.R. Soepratman.